Aliya pergi berlibur ke Desa Bugenvil bersama sahabat-sahabatnya. Liburan itu seharusnya sederhana, empat sahabat, udara desa, dan satu mimpi kecil bernama Bukit Bunga.
Semuanya terasa baik-baik saja hingga satu poster terbakar, satu nama tak disebut, dan kata “aku” terdengar lebih sering daripada “kami”.
Ada yang memilih diam. Ada yang berjalan lebih cepat. Ada pula yang tetap bekerja dalam senyap, meski hatinya terluka.
Malam-malam di desa dipenuhi angin dingin, cahaya lampu temaram, dan percakapan yang tertahan di dada. Tak semua marah diucapkan dan tak semua luka terlihat.
Ketika kebenaran akhirnya terucap, Aliya hanya bisa bertanya dalam diam. Sebab terkadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan mimpi melainkan menyadari bahwa kita hampir kehilangan satu sama lain, tanpa sempat berkata apa-apa.
Apakah semua yang retak masih bisa disatukan, atau mereka sudah terlambat menyadarinya?