Aku, Resya, dan Aghnia selalu punya satu hal yang sama: matcha latte. Dari minuman itulah, semuanya dimulai. Tawa, cerita, sampai janji persahabatan yang terasa tidak akan pernah berubah.
Ternyata, bahkan sesuatu yang terasa paling dekat pun bisa perlahan menjauh. Saat semuanya terasa asing, aku baru sadar … menjaga persahabatan ternyata tidak semudah menikmatinya.
Apakah persahabatan kami masih bisa kembali seperti semula? Atau justru harus belajar menerima bahwa tidak semua yang berubah bisa kembali sama? Atau seperti matcha, semuanya memang harus diaduk dulu—agar menemukan rasa yang baru?